SERANG | infobahari.com — Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, menegaskan bahwa pers yang sehat menjadi fondasi utama dalam mewujudkan ekonomi berdaulat dan bangsa yang kuat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato strategisnya pada Puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kota Serang, Provinsi Banten, Senin (9/2/2026).
Di hadapan jajaran pejabat negara, pimpinan lembaga nasional, kepala daerah, serta ribuan insan pers dari seluruh Indonesia, Munir mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan HPN sebagai momentum refleksi sejarah sekaligus penguatan peran pers dalam menentukan arah masa depan Indonesia.
“Sejak awal lahir, pers Indonesia adalah pers perjuangan. Pada masa kolonial, pers menjadi medium konsolidasi gagasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran rakyat, dan mengobarkan semangat kemerdekaan,” tegasnya.
Menurutnya, pers tidak tumbuh di ruang hampa, melainkan lahir bersama cita-cita kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kesejahteraan umum, serta menjaga ketertiban dunia.
Karena itu, pers bukan sekadar industri informasi, tetapi bagian dari fondasi demokrasi dan pembangunan nasional.
Munir menekankan bahwa komitmen tersebut dijaga melalui Kode Etik Jurnalistik yang menjadi pembeda antara pers arus utama dengan arus informasi tanpa tanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa profesionalisme, akurasi, dan keberimbangan harus menjadi prinsip utama kerja jurnalistik.
“Wartawan hidup dalam kewaspadaan dan kegelisahan intelektual — bukan karena takut pada kekuasaan, tetapi karena takut keliru menyampaikan kebenaran,” ujarnya.
Selain tanggung jawab internal, pers juga memiliki peran eksternal sebagai pengawas kebijakan publik. Kritik yang disampaikan media, kata Munir, bukanlah bentuk kebencian, melainkan ekspresi kecintaan terhadap bangsa agar kebijakan tetap berada di jalur yang benar.
Dalam pidatonya, ia juga menyoroti tantangan besar Indonesia dalam dua dekade ke depan. Bonus demografi yang menjadi peluang besar tidak akan berlangsung selamanya. Jika gagal mencapai status negara berpendapatan tinggi, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap.
Ia menilai target pertumbuhan ekonomi rata-rata 8 persen yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto merupakan visi besar menuju Indonesia Emas 2045.
Tema HPN 2026, Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat, menurut Munir sangat relevan dengan kondisi saat ini. Pers yang sehat harus profesional, independen, berintegritas, serta memiliki keberlanjutan ekonomi.
“Tantangan ke depan tidak ringan — disrupsi digital, banjir informasi tidak terverifikasi, kecerdasan buatan, polarisasi sosial, hingga tekanan ekonomi terhadap industri media,” ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia mendorong penguatan kompetensi wartawan melalui pendidikan dan sertifikasi berkelanjutan, transformasi bisnis media agar adaptif di era digital tanpa kehilangan independensi, serta kolaborasi antara pemerintah, pers, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat.
“Pers akan terus mengawal pemerintahan agar berhasil. Kami percaya keberhasilan pemerintah adalah keberhasilan rakyat. Namun keberhasilan itu hanya mungkin jika kebijakan terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kritik konstruktif harus dipandang sebagai vitamin demokrasi, bukan ancaman.
Puncak peringatan HPN 2026 di Banten dihadiri Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar yang mewakili Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Gubernur Banten Andra Soni, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, serta delegasi luar negeri dari Malaysia yang dipimpin Wakil Menteri Komunikasi Malaysia Teo Nie Ching bersama rombongan wartawan Malaysia.
Momentum ini menegaskan posisi pers sebagai pilar demokrasi yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi penjaga arah perjalanan bangsa menuju masa depan yang lebih kuat dan berdaulat.
( Mela )












