Dari ‘Anak Kambing’ ke Media Merdeka

- Staff

Minggu, 17 Agustus 2025 - 06:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari 'Anak Kambing' ke Media Merdeka.

Dari 'Anak Kambing' ke Media Merdeka.

INFOBAHARI.COM, JAKARTA – Bagi insan pers, ukuran sejati dari kemerdekaan Indonesia adalah sejauh mana kemerdekaan pers bisa tegak setegak-tegaknya. Kita sering mengira kemerdekaan pers adalah barang gampang, toh setiap hari kita bisa baca berita dari ratusan portal daring, menonton liputan televisi, atau sekadar menikmati ocehan akun-akun media di medsos. Namun, realitas di balik layar tidak sesederhana itu.

Justru hari ini, meraih kemerdekaan pers semakin pelik. Kalau diartikan sebatas bebas meliput, bebas memberitakan, dan bebas dari tekanan politik, mungkin memang pers kini relatif lebih terbuka ketimbang era otoritarian dulu. Tetapi, sejak pandemi Covid-19 mempercepat peralihan konsumsi informasi ke platform digital, pers berhadapan dengan “penjajah” baru: ekosistem bisnis media yang kian rapuh.

Krisis Ekonomi Media

Data Nielsen (2023) menunjukkan belanja iklan di televisi, cetak, dan radio terus turun, sementara iklan digital tumbuh pesat, tetapi ironisnya, lebih dari 70 persen diambil alih oleh raksasa platform global seperti Google dan Meta. Akibatnya, media lokal hanya kebagian remah-remah. Catatan penulis, setidaknya 500 jurnalis kehilangan pekerjaan sepanjang pandemi karena efisiensi redaksi. Lalu disambung badai PHK yang menyebabkan banyak jurnalis terbaik di media mainstream kehilangan pekerjaan.

Di titik ini, kemerdekaan pers tidak lagi sekadar soal bebas dari tekanan politik, tetapi juga bagaimana media mampu melepaskan diri dari jeratan ketergantungan finansial. Banyak media kini terpaksa “menggadaikan” independensi demi bertahan hidup: dari content placement berbayar, pesanan politik, hingga menjajakan ruang pemberitaan kepada pemodal. Alih-alih melayani publik, pers kerap terjebak melayani pihak yang paling mampu membayar.

Tak heran muncul istilah getir: “pers anak kambing”—media yang harus menyusu ke sana-sini sekadar untuk hidup. Gambaran ini tentu menyakitkan, tapi juga jujur. Di tengah situasi itu, lahirlah Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI). Organisasi ini semoga tidak hanya menambah daftar panjang asosiasi pers yang ada, melainkan bisa menjawab tantangan zaman: menyatukan media lintas platform—cetak, elektronik, daring, hingga multimedia—dalam sebuah ekosistem kolaboratif.

Sebagai yang pertama dan satu-satunya wadah media konvergensi, AMKI memikul misi yang tidak ringan: mengubah pola bertahan hidup media yang selama ini “meminta-minta” menjadi pola kolaborasi yang produktif. Konvergensi bukan sekadar jargon teknologi, melainkan strategi untuk menegakkan kembali kemandirian pers.

Sinergi Tanpa Intervensi

Kabar baiknya, sejumlah institusi strategis, dari kementerian dan lembaga tinggi negara, hingga mitra militer dan swasta, telah menyatakan dukungan. Bukan untuk menundukkan media, tetapi untuk merangkul dan mempercayai pers sebagai pilar demokrasi. Kolaborasi ini, kalau dikelola dengan benar, bisa menjadi energi baru bagi media tanpa mengorbankan independensi.

Di sisi lain, AMKI tetap harus menjaga rambu-rambu. Kemerdekaan pers tetap berpijak pada UU Nomor 40 Tahun 1999, tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Sinergi tidak boleh berubah menjadi kooptasi. Media hanya akan dihormati publik bila ia tetap berpihak pada kebenaran dan kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pemodal atau institusi.

AMKI sendiri bukan sekadar “forum kumpul-kumpul”. Ia lahir untuk menggelar program konkret: Forum Konvergensi Media, pelatihan digitalisasi, advokasi regulasi, hingga kemitraan strategis yang menguntungkan semua pihak. Di dalam struktur AMKI, hadir pula tokoh-tokoh besar dari berbagai latar belakang—pejabat sipil, perwira militer, akademisi, dan praktisi media.

Jika di masa lalu pers sempat rela “dijajah” demi bertahan, maka dengan AMKI kita ingin melangkah ke babak baru: menjadikan kolaborasi sebagai kunci, kemandirian sebagai fondasi, dan kepentingan publik sebagai arah.

Akhir kata, kemerdekaan pers hari ini memang tidak sesederhana menolak intervensi politik. Ia menuntut kecerdikan menghadapi kapitalisme platform, menuntut solidaritas di antara media, dan menuntut keberanian untuk berkata: lebih baik miskin tapi merdeka, ketimbang kaya tapi diperbudak. Dengan AMKI, kita ingin pers Indonesia kembali menegakkan kepalanya, setegak-tegaknya.

Oleh: Tundra Meliala
Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat.(rls)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Polsek Pinang Ringkus DPO Curanmor di Warakas, Pelaku Dibekuk Tanpa Perlawanan
Kapolda Metro Jaya Pimpin Apel Pengamanan Swakarsa Jelang Nataru 1.500 Satpam dan Satkamling Disiagakan, Mobilitas Warga Diprediksi Naik Drastis
Danrem 052/Wkr Pimpin Pengamanan VVIP Kunjungan Wakil Presiden RI di Jakarta Barat
Danrem 052/Wkr Pimpin Pam VVIP Kunjungan Kerja Wapres RI di Pulau Pramuka.
Pelantikan Pengurus KBRC DPD Jakarta Selatan Periode 2025–2029 Sukses: Teguhkan Semangat Kebersamaan
SMSI Kota Tangerang Hadiri Media Gathering DPRD di Bandung: Perkuat Sinergi dan Komunikasi Publik yang Konstruktif
Memaknai Area Undelimited Waters ZEEI – Selat Malaka Serta Hak Dan Kewajiban Negara Para Pihak
PWI Dorong Konsistensi MoU Dewan Pers–Polri, Kapolri Tegaskan Komitmen Dukung Pers Profesional

Berita Terkait

Jumat, 5 Desember 2025 - 15:52 WIB

“Petugas Gabungan Perketat Pengawasan TKA di Tangerang, Warga Apresiasi Langkah Pemerintah”

Jumat, 5 Desember 2025 - 08:09 WIB

Kunjungi Kodim 0510/Tigaraksa, Danrem 052/Wkr Tekankan Profesionalisme Prajurit dan Dukungan Menuju Indonesia Emas 2045

Jumat, 5 Desember 2025 - 08:07 WIB

Pekerja Parkiran RSUD Tangerang Tanpa Alat Keselamatan Disorot Warga

Jumat, 5 Desember 2025 - 08:02 WIB

Antisipasi Cuaca Ekstrem, BPBD Kota Tangerang Maksimalkan Command Center 24 Jam

Jumat, 5 Desember 2025 - 07:58 WIB

Pramuka Kota Tangerang Kirim Relawan ke Sumbar, Warga: Bangga Ada Anak Muda Siap Turun ke Lapangan

Jumat, 5 Desember 2025 - 07:46 WIB

Ada Sirkus, PKS Desak Proyek Gedung Parkir RSUD Dihentikan

Jumat, 5 Desember 2025 - 07:43 WIB

Proyek Dinkes Kota Tangerang *Diduga Abaikan K3, Pekerja Tak Gunakan APD: Aktivis dan Akademisi Soroti Dugaan Pelanggaran Hukum*

Kamis, 4 Desember 2025 - 08:24 WIB

Kapolres Sambangi Sekolah, Pelajar Diminta Stop Tawuran Police Go to School Digelar di SMKN 2 Kota Tanggerang.

Berita Terbaru

Kota Tangerang

Pekerja Parkiran RSUD Tangerang Tanpa Alat Keselamatan Disorot Warga

Jumat, 5 Des 2025 - 08:07 WIB