HPN 2026 SMSI: Napak Tilas Jejak Multatuli di Lebak, Insan Pers Kobarkan Semangat Kemanusiaan dan Perlawanan terhadap Ketidakadilan

- Staff

Kamis, 12 Februari 2026 - 15:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

INFOBAHARI.COM, LEBAK — Rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menghadirkan agenda literasi sejarah yang sarat makna. Ratusan insan pers dari berbagai daerah menyusuri jejak perjuangan Eduard Douwes Dekker atau Multatuli melalui kunjungan edukatif ke Museum Multatuli, Kabupaten Lebak, Banten.

Kegiatan ini bukan sekadar wisata sejarah, melainkan momentum refleksi bagi para jurnalis untuk menguatkan nilai-nilai kemanusiaan, keberanian menyuarakan kebenaran, serta peran pers sebagai kontrol sosial di tengah dinamika zaman.

Rombongan peserta dipimpin langsung Sekretaris Jenderal SMSI Pusat Makali Kumar, didampingi Dewan Penasehat SMSI Pusat Moh. Nasir, serta Ketua SMSI Provinsi Banten Lesman Bangun. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Pemerintah Kabupaten Lebak melalui perwakilan Diskominfo, Sehabudin.

Dalam sambutannya, Makali Kumar menegaskan bahwa kegiatan napak tilas ini menjadi bagian dari agenda literasi sejarah HPN 2026 yang bertujuan memperkaya perspektif insan pers terhadap nilai keadilan sosial.

“Lebak sarat dengan sejarah perjuangan melalui pena Multatuli. Ia melawan monopoli, kapitalisasi, dan penindasan lewat karya tulisnya. Ini menjadi inspirasi bagi jurnalisme modern untuk tetap berpihak pada kebenaran,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Multatuli merupakan nama pena Eduard Douwes Dekker, seorang pejabat kolonial Belanda yang pernah menjabat Asisten Residen Lebak pada tahun 1856.
Ketidakmampuannya mentoleransi penindasan terhadap rakyat pribumi mendorongnya mengundurkan diri, sebelum akhirnya menuangkan pengalaman tersebut dalam karya legendaris Max Havelaar pada tahun 1860.

Menurut Makali, semangat keberanian Multatuli dalam melawan ketidakadilan melalui tulisan menjadi simbol penting bagi dunia pers.

“Meskipun bukan orang Indonesia, Multatuli berani melawan ketidakadilan. Semangat inilah yang harus terus kita kobarkan demi pers yang sehat, ekonomi berdaulat, dan bangsa yang kuat,” tambahnya.

Sebelum memasuki museum, peserta mendapatkan pemaparan mengenai perjalanan dan visi SMSI sebagai organisasi media siber terbesar di Indonesia. Setelah itu, rombongan diajak menelusuri berbagai ruang pamer yang menampilkan arsip kolonial, ilustrasi sejarah, hingga diorama sosial-politik masa penjajahan.

Kunjungan dipandu langsung oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Museum Multatuli, Lia Havila. Ia menjelaskan bahwa karya Max Havelaar menjadi tonggak penting yang membuka mata dunia internasional terhadap praktik ketidakadilan sistem tanam paksa di Hindia Belanda.

“Nilai-nilai yang diperjuangkan Multatuli masih sangat relevan dengan semangat pers masa kini, yakni menyuarakan kebenaran, membela kemanusiaan, dan mengkritisi ketidakadilan,” ujar Lia.

Para peserta tampak antusias menyimak setiap penjelasan, sekaligus merefleksikan kembali peran strategis pers sebagai pengawas sosial yang independen. Setiap artefak yang dipamerkan menjadi pengingat bahwa tulisan memiliki kekuatan besar dalam mengubah sejarah.
Kunjungan ke Museum Multatuli ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian HPN 2026 SMSI.

Selain memperkaya wawasan sejarah, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat komitmen insan pers untuk terus menjalankan tugas jurnalistik secara kritis, berimbang, dan bertanggung jawab demi kepentingan publik.

( Syamsul Sinambela )

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pengukuhan Pengurus Matahari Pagi Indonesia Provinsi Banten Dihadiri Gubernur dan Wamenhaj Dahnil
Dahnil Ceritakan Kisah Lahirnya Matahari Pagi Indonesia: Berawal dari Rapat Usai Lari Subuh
Dua Tahun Berlalu, Pelaku Penganiayaan Anak di Pandeglang Belum Ditahan, Keluarga Korban Justru Diteror LSM
SMSI Banten Sukses Gelar Training Center Pokja Jaga Desa, Hadirkan Inovasi Ekosistem Media Terintegrasi Pertama di Indonesia
Kukuhkan Pokja Jaga Desa se-Banten, Lesman Bangun Tekankan Pentingnya Pengawasan Publikasi Desa yang Transparan
Puluhan Tahun Berjalan Kaki Mengabdi Untuk Pendidikan, PPPK di Lebak ini Akhirnya Punya Motor Setelah Videonya Viral
Pers Harus Dekat dengan Rakyat, Sekjen Forum Pimred: Perkuat Literasi Jurnalistik untuk Tangkal Hoaks
Anak Semata Wayang Jadi Kebanggaan Keluarga, Sofyan Dikha Rahman Ukir Prestasi Gemilang Di UNIMED

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Pengukuhan Pengurus Matahari Pagi Indonesia Provinsi Banten Dihadiri Gubernur dan Wamenhaj Dahnil

Jumat, 31 Juli 2026 - 03:13 WIB

Dua Tahun Berlalu, Pelaku Penganiayaan Anak di Pandeglang Belum Ditahan, Keluarga Korban Justru Diteror LSM

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:09 WIB

SMSI Banten Sukses Gelar Training Center Pokja Jaga Desa, Hadirkan Inovasi Ekosistem Media Terintegrasi Pertama di Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:06 WIB

Kukuhkan Pokja Jaga Desa se-Banten, Lesman Bangun Tekankan Pentingnya Pengawasan Publikasi Desa yang Transparan

Selasa, 21 Juli 2026 - 04:26 WIB

Puluhan Tahun Berjalan Kaki Mengabdi Untuk Pendidikan, PPPK di Lebak ini Akhirnya Punya Motor Setelah Videonya Viral

Senin, 20 Juli 2026 - 08:11 WIB

Pers Harus Dekat dengan Rakyat, Sekjen Forum Pimred: Perkuat Literasi Jurnalistik untuk Tangkal Hoaks

Sabtu, 18 Juli 2026 - 03:37 WIB

Anak Semata Wayang Jadi Kebanggaan Keluarga, Sofyan Dikha Rahman Ukir Prestasi Gemilang Di UNIMED

Kamis, 16 Juli 2026 - 04:41 WIB

Perkuat Sinergi Berantas Narkoba, DPD Pemuda Batak Bersatu Banten Audiensi dengan BNNP Banten, Siapkan Penandatanganan MoU

Berita Terbaru