INFOBAHARI.COM , Tangerang – Program angkutan massal Si Benteng kembali menjadi pembahasan hangat usai mencuat dugaan pemborosan anggaran. Menanggapi hal tersebut, PT Tangerang Nusantara Global (TNG) selaku BUMD pengelola menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh sedang dan akan terus dilakukan.
Direktur Utama PT TNG, Rijal, mengatakan pihaknya terbuka terhadap berbagai masukan, baik dari DPRD, pemerhati transportasi, maupun masyarakat. Ia menegaskan bahwa Si Benteng tetap hadir sebagai layanan publik yang berbasis subsidi sesuai ketentuan undang-undang, sehingga wajib memperhatikan efisiensi dan manfaat bagi warga.
“Kami sudah mulai melakukan pengawasan ketat. Petugas checker kami tempatkan di lapangan, lalu setiap armada Si Benteng sudah dipasang GPS agar jarak tempuhnya bisa kami monitor. Yang kami bayarkan hanya kendaraan yang benar-benar beroperasi. Kalau mobilnya masuk perawatan, tidak kami bayar,” ujar Rijal saat ditemui, Jumat (28/11).
Menurutnya, evaluasi juga menyasar penataan rute. Dari total 9 trayek yang ada, dua di antaranya sudah diubah, dan trayek baru akan segera dibuka untuk mengurai penumpukan armada di jalur tertentu.
“Kami ingin rute lebih merata agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat secara luas,” tambahnya.
PT TNG juga menyiapkan peningkatan layanan, mulai dari integrasi sistem pembayaran menggunakan QRIS, kartu e-money, e-toll, Flazz, Tabcash, hingga KMT. Untuk bus sedang (Tayo), sistem pembayaran disebut sudah lengkap dan siap menjangkau semua pengguna.
Selain itu, sejumlah fasilitas sedang ditingkatkan, seperti pemasangan CCTV di dalam kendaraan, perbaikan kenyamanan armada, hingga penambahan halte atau titik pemberhentian Si Benteng.
Rijal menyebutkan, sosialisasi juga terus digencarkan melalui sekolah-sekolah untuk layanan gratis pelajar serta melalui kanal media sosial.
“Evaluasi terus dilakukan, dari fasilitas, keamanan, sampai analisa pemanfaatan Si Benteng. Harapan kami, layanan ini semakin optimal untuk masyarakat Kota Tangerang,” tutupnya.
* Rizky, 29 tahun, warga Kecamatan Cipondoh
“Kalau memang dievaluasi total, saya dukung. Banyak warga yang butuh transportasi murah, tapi rutenya harus jelas dan nggak numpuk di titik itu-itu aja.”
* Siti Marlina, 44 tahun, orang tua pelajar SMP di Tangerang
“Program gratis untuk pelajar bagus banget, cuma armadanya perlu ditambah. Kadang anak saya nggak kebagian karena penuh.”
* Bagus Rahmad, 35 tahun, pekerja harian di Pinang
“Yang penting transparan soal operasionalnya. Kalau ada GPS dan pengawasan, ya itu bagus. Biar nggak ada lagi anggapan pemborosan.”
* Dede Surya, 26 tahun, pengguna rutin Tayo
“Pembayaran makin mudah sih, tinggal tap. Tapi halte harus ditambah. Banyak warga mau naik tapi bingung titik pemberhentiannya.”
( Mela )












