INFOBAHARI.COM , TIGARAKSA – Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, kembali menuai sorotan publik. Sejumlah keluarga pasien mengeluhkan dugaan pelayanan yang tidak berjalan optimal sebagaimana fungsi IGD sebagai garda terdepan penanganan kondisi darurat medis.
Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa pasien terlihat hanya dibariskan dan didudukkan di kursi roda tanpa penanganan medis lanjutan. Tindakan yang diberikan terbatas pada pemeriksaan tanda-tanda vital, tanpa disertai pemeriksaan lanjutan seperti pengambilan sampel darah, pemasangan infus, ataupun penanganan luka.
Keluhan salah satunya disampaikan Ayu Rosaindah, keluarga pasien yang membawa adiknya ke IGD RSUD Tigaraksa dalam kondisi sesak napas. Ayu mengaku sempat diminta membawa adiknya kembali ke fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama dengan alasan prosedur rujukan BPJS.
> “Adik saya sudah engap-engapan, tapi malah disuruh balik ke faskes pertama untuk dapat pelayanan IGD,” ujar Ayu kepada wartawan, Selasa (15/12/2025) dini hari.
Setelah pihak keluarga bersikeras, dokter akhirnya melakukan pemeriksaan. Namun menurut Ayu, pemeriksaan tersebut hanya sebatas tanya jawab tanpa disertai tindakan medis lanjutan.
> “Cuma ditanya sakit apa dan apa yang dirasa. Enggak ada pemeriksaan, rasanya kayak wawancara saja,” ungkapnya.
Selain itu, di lokasi IGD juga terlihat seorang korban kecelakaan lalu lintas yang mengalami luka terbuka dan mengeluarkan darah. Namun korban tersebut dilaporkan hanya ditawari pembersihan luka tanpa penanganan medis lanjutan.
Ironisnya, berdasarkan penuturan salah satu dokter jaga, tindakan medis lanjutan baru dapat dilakukan setelah pasien mendapatkan tempat tidur atau bed. Selama pasien belum memperoleh bed, tenaga medis disebut hanya diperbolehkan melakukan pemeriksaan awal berupa pengecekan tanda vital sesuai standar operasional prosedur (SOP) internal rumah sakit.
Kondisi tersebut memicu kekecewaan sejumlah keluarga pasien. Beberapa di antaranya tampak geram dan memilih membawa anggota keluarganya ke fasilitas kesehatan lain karena tidak menerima alasan SOP tersebut.
Tak ingin mengambil risiko, setelah menunggu selama beberapa jam tanpa kepastian penanganan, Ayu akhirnya memutuskan membawa adiknya ke fasilitas pelayanan kesehatan lain.
> “Di rumah sakit lain, adik saya langsung ditangani dan pelayanannya jauh lebih cepat,” katanya.
Situasi ini memunculkan tanda tanya besar terkait penerapan SOP pelayanan gawat darurat di RSUD Tigaraksa. Publik mempertanyakan apakah benar tindakan medis lanjutan di IGD harus menunggu ketersediaan bed, serta sejauh mana praktik tersebut sejalan dengan prinsip dasar pelayanan IGD yang seharusnya mengutamakan keselamatan nyawa pasien.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen RSUD Tigaraksa belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pembatasan layanan darurat tersebut. Redaksi masih berupaya meminta klarifikasi serta hak jawab dari pihak rumah sakit.
( red )












